Hidup Tak Ada Arti

Hidup ini penuh dengan resiko tinggi

kemanapun pergi pasti memiliki arti

apapun yang di perbuat akan menjadi saksi

bagaimana dirimu hidup dengan ketergantungan diri

rasa sesal abadi akan timbul di ahir hari

 

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Ketika Syetan Mengoda Manusia Untuk Melalaikan Sholat — backpacker gayo

oleh :sulyadi sobat apakah kalian pernah merasakan bagaimana sholat itu sangat sulit di laksanakan padahal apabila kita lihat dari pandagan yang jelas sholat itu hanya sebentar, kita bayangkan saja dari sholat subuh hanya dua rokaat yaitu paling sebentar hanya sekitar 5 menit kita laksanakan begitu pula dengan sholat dzuhur, ashar, magrib dan isya paling lama […]

melalui Ketika Syetan Mengoda Manusia Untuk Melalaikan Sholat — backpacker gayo

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Tafsir Tematik Tentang Riba

Dalam Al-Qur’an ditemukan kata riba sebanyak delapan kali dalam empat surat, tiga diantarannya turun setelah Nabi Hijrah dan satu ayat lagi ketika beliau masih di Makkah. Yang di Makkah walaupun menggunakan kata riba (QS. Al-Rum (30) : 39) ulama sepakat bahwa riba yang dimaksud di sana bukan riba yang haram karena ia diartikan sebagai pemberian hadiah, yang bermotif memperoleh imbalan banyak dalam kesempatan yang lain. Larangan riba yang terdapat dalam Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus melainkan diturunkan dalam empat tahap. Adapun ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan masalah riba diantaranya :
. 1) Surat Ar-Ruum ayat 39
وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ (الروم : 39)
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”.
2) Surat An-Nisaa’ Ayat 160 dan 161.

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا (160) وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
(النساء : 160 ،161 )
“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”

3) Surat Ali Imron Ayat 130
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”
Surat Al-Baqarah Ayat 275-276.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (275) يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (276)
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa yang datang kepadanya peringatan dari Allah. Lalu ia berhenti maka baginya adalah apa yang telah berlalu dan urusannya adalah kepada Allah dan barang siapa yang kembali lagi, maka mereka adalah penghuni neraka yang kekal di dalamnya. Allah akan menghapus riba dan melipat gandakan sedekah dan Allah tidak suka kepada orang-orang kafir lagi pendosa”.(QS. Al-Baqarah : 275- 276)

4) Surat Al-Baqarah Ayat 278-279
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ (279)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa-sisa riba jika memang kamu orang yang beriman. Jika kamu tidak melakukannya, maka terimalah pernyataan perang dari Allah dan rasul Nya dan jika kalian bertobat maka bagi kalian adalah modal-modal, kalian tidak berbuat zalim dan tidak pula dizalimi”. (QS. Al-Baqarah : 278- 279.

1.2 tafsir ayat tentang riba
Dalam ayat Al-Qur’an yang telah diutarakan di atas para Ulama Mufasirin atau Ahli Tafsir dalam mentafsiri Ayat Al-Qur’an terdapat berbagai pemahaman yang berbeda-beda. Dalam ayat yang pertama Surat Ar-Ruum ayat 39 dalam Kitab Jalalain karya Al-Imamaini yakni Syeh Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Mahallii dan Jalaluddin Abdul Ar Rohman bin Abu Kar As Syuyuti, menafsiri bahwa Lafadz “وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا ”yakni umpamanya sesuatu yang diberikan atau dihadiahkan kepada orang lain supaya dari apa yang telah diberikan orang lain memberikan kepadanya basalan yang lebih banyak dari apa yang telah ia berikan, pengertian sesuatu dalam ayat ini dinamakan tambahan yang dimaksudkan dalam masalah muamalah. Kemudian dilanjutkan lafadz “ لِيَرْبُوَ“ yakni orang-orang yang memberi itu, mendapatkan balasan yang bertambah banyak, dari sesuatu hadiah yang telah diberikan.sedangkan “ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ “ yang terdapat penjelasana yakni riba itu tidak menambah banyak inda Allah atau disisi Allah dalam arti tidak ada pahalanya bagi orang-orang yang memberikannya. وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ … ألحini bahwa orang-orang yang melakukan sedekah semata-mata karena Allah, untuk mendapatkan keridhoaan-Nya inilah yang akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah, sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Di dalam ungkapan ini terkandung makna sindiran bagi orang-orang yang diajak bicara atau mukhathabin”.
Dalam uraian di atas dalam kami simpulkan bahwa :
a) Riba di dalam Muamalah yang tidak akan mendadikan tambah di sisi Allah atau Inda Allah.
b) Tidak mendapat pahala orang yang melakukan riba atau tambahan.
c) Anggapan salah yang ditolak, bahwa pinjaman riba yang pada diri orang yang memberi hadiah, seolah-olah menolong mereka yang membutuhkannya dan juga melakukan suatu perbuatan untuk mendekati takarrub kepada Allah.
d) Shodaqoh merupakan perkara yang dilipat-lipat gandakan oleh Allah kepada orang yang bersedekah.
Ayat yang bersifat peringatan untuk tidak melakukan hal yang negatif atau perkara yang dilarang oleh Allah. Ayat ini tidak ada petunjuk Allah SWT yang mengatakan bahwasanya “riba itu haram”.
الربا : الزيادة والنمو
Riba: secara bahasa berarti bertambah dan berkembang, sedangkan dalam terminologi syar’i berarti tambahan nilai dari modal yang diambil pemilik modal/debitor kepada peminjam/kreditor atas tempo yang diberikan.
Menurut Ibnu Arabi, riba adalah sesuatu yang biasa dilakukan manusia Arab pada masa Jahiliyah, seseorang berjual beli dengan orang lain dalam tempo waktu tertentu, setelah datang temponya orang tersebut akan menagih ketika tagihan tidak bisa dilunasi makaorang tersebut akan melipatgandakan pokok hartanya.
An-Nu’man bin Basyir mengatakan, bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda:
حرام فالوسيلة إليه مثله؛ لأن ما أفضى إلى الحرام حرام، كما أن ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب. وقد ثبت في الصحيحين، عن النعمان بن بشير، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إن الحلال بين وإن الحرام بين، وبين ذلك أمور مشتبهات، فمن اتقى الشبهات استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام، كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه (رواه البخارى ومسلم )

“Sesungguhnya halal itu sudah jelas dan haram juga sudah jelas, dan di antara keduanya ada hal-hal yang samar. Karenanya, barangsiapa yang menjaga diri dari perkarasyuhbat, bersih agama dan kehormatannya. Sebalilnya barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syuhbat maka ia akan jatuh ke dalam perkara haram, ^agaikan gembala yang memelihara ternaknya di sekiiar tempat terlarang, mungkin ternaknya terjerumus ke didalamnya.”(H.R. Bufchari-Muslim).

1.3 Pola Pentahapan dan Asbabun Nuzul
Larangan riba yang terdapat dalam Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, melainkan dalam empat tahap.

Ar- Rum, 30: 39

وما اْتيتم من ربا ليربوا في اموال النّاس فلا يربوا عند اللهوما اْتيتم من زكوة تريدون وجه الله فاْولئك هم المضعفون *

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak bertambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya), [39].”

Dalam tahap ini, pinjaman riba yang zahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan, sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqarub kepada Allah SWT, ditolak dan tidak tidak diterima. Dan riba yang dimaksud untuk menambah harta itu, sebenarnya tidaklah menambah di sisi Allah. Ayat ini turun sebelum hijrah (Makiyah), belum menyatakan haramnya riba, tetapi sekedar menyatakan bahwa Allah tidak menyukainya.
An-Nisa’, 4 : 160 – 161

فبظلم مّن الّذين هادوا حرّمنا عليهم طيبت أحلّت لهم وبصدّهم عن سبيل الله كثيراَ* واحذهم الرّبوا وقد نهوا عنه واكلهم اموال النّاس بالباطل واعتدنا للكافرين منهم عذابا اّليماَ*

“Maka, disebabkan kezalaiman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dilalakan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah;[160]. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang dari padanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih;[161].”

Ayat ini turun dalam konteks waktu itu, orang-orang Yahudi biasa melakukan perbuatan dosa besar. Mereka selalu menyalahi aturan yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Barang-barang yang telah dihalakan oleh Allah mereka haramkan, dan apa yang diharamkan oleh Allah mereka lakukan. Sebagian dari barang yang diharamkan oleh Allah yang mereka banyak budayakan adalah riba. Hanya orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah secara jujur dari kalangan meraka – diantaranya Abdullah bin Salam, Tsa’labah bin Sa’yah, Asad bin Sa’yah dan Asad bin Usaid – saja yang tidak mau melakukan kezaliman. Sehubungan dengan itu, Allah SWT menurunkan ayat 161 sebagai khabar tentang perbuatan mereka dan sebagai kabar gembira bagi mereka yang beriman untuk mendapatkan pahala yang besar dari sisi Allah SWT. (HR. Ibn Abi Hatim dari Muhammad b. Abdillah b. Yazid al-Muqri dari Yahya b. Uyainah dari Amr b. Ash).

Dalam tahap ini, riba digambarkan sebagai sesuatu yang buruk. Dalam ayat ini diceritakan bahwa orang-orang yahudi dilarang melakukan riba, tetapi larangan itu dilanggar mereka sehingga mereka dimurkai Allah SWT dan diharamkan kepada mereka sesuatu yang telah pernah dihalalkan kepada mereka sebagai akibat pelanggaran yang mereka lakukan. Ayat ini turun sesudah Hijrah (Madaniyah). Dan ayat ini belum secara jelas ditujukan kepada kaum muslimin, tetapi secara sindiran telah menunjukan bahwa, kaum muslimin pun jika berbuat demikian akan mendapat kutuk sebagaimana yang didapat orang-orang yahudi.

C. Ali Imron, 3: 130

يايها الّذين امنوا لا تاءكلوا الربوا اضعافا مضاعفة واتّقوا الله لعّلكم تفلحون *

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkan keberuntunga;[130].”

Dalam tahap ini, riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Para ahli tafsir berpendapat bahawa pengambilan bunga dengan tingkat yang cukup tinggi merupakan fenomena yang banyak dipraktikan pada masa tersebut. Ayat ini turun pada tahun ke tiga hijrah. Secara umum, ayat ini harus dipahami bahwa criteria berlipat ganda bukanlah merupakan syarat dari terjadinya riba (jikalau bunga berlipat ganda maka riba, tetapi jikalau kecil bukan riba), tetapi ini merupakan sifat umum dari parktik pembungaan uang pada saat itu.

Pada waktu itu terdapat orang-orang yang melakukan akad jual beli dengan jangka waktu tertentu (kredit). Apabila waktu pembayaran telah tiba, mereka ingkar, tidak mau membayar, sehingga dengan demikian bertambah besarlah bunganya. Dengan menambah bunga berarti mereka bertambah pula jangka waktu untuk membayar. Sehubungan dengan kebiasaan seperti ini Allah menurunkan ayat ini, yang pada intinya memberi peringatan dan larangan atas praktik jual beli yang demikian itu. (HR. Faryabi dari Mujahid). Dalam riwayat lain diceritakan bahwa, di zaman Jahiliyah Tsaqif berhutang kepada Bani Nadhir, pada waktu yang telah dijanjikan untuk membayar hutang itu, Tsaqif berkata: “Kami akan membayar bunganya dan kami meminta agar waktu pembayaranya ditangguhkan. Sehubungan dengan hal itu Allah SWT menurnkan ayat 130 sebagai peringatan, larangan dan ancaman bagi mereka yang membiasakan berbuat riba. (HR. Faryabi dari Atha’).

D. Al-Baqarah : 278 – 279

يايها الّذين امنوا اتقوا الله وذرا ما بقي من الرّبواان كنتم مؤمنين * فان لم تفعلوا فاْذنوا بحرب من الله ورسوله وان تبتم فلكم رءوس اموالكم لا تظلمون ولا تظلمون *

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman.{278}. Maka jika kamu tidak mengerjakanya (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya (dirugikan);[279].”[10]

Pada tahap akhir ini, Allah SWT dengan jelas dan tegas mengharamkan apapun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman. Ayat 278 dan 279 diturunkan sehubungan dengan pengaduan Bani Mughirah kepada gubernur Mekah Itab bin Usaid setelah terbunya Kota Mekah tentang utang-utang yang dilakukan dengan riba sebelum turunya ayat yang mengharamkan riba. Bani Mughirah menghutangkan harta kekayaan kepada Bani Amr bin Auf dari penduduk Tsaqif. Bani Mughirah berkata kepada Itab bin Usaid: “Kami adalah segolongan yang paling menderita lantaran dihapuskanya riba. Kami ditagih riba oleh orang lain, sedangkan kami tidak mau menerima riba lagi karena taat kepada peraturan Allah AWT yang menghapu riba”. Bani Amr bin Auf berkata: “Kami minta penyelesaian tagihan riba kami”. Oleh sebab itu Gubernur Mekah Itab bin Usaid mengirim surat kepada Rasulullah SAW yang isinya melaporkan kejadian tersebut. Surat ini dijawab oleh Rasulullah SAW setelah turunya ayat 278 dan 279 ini. Didalam ayat ini ditegaskan tentang perintah untuk meninggalkan riba.

1.4 RIBA DALAM HADITS

Dari Abdullah r.a., ia berkata : “Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang memakan (mengambil) & memberikan riba.” (HR.Muslim
Dari Jabir r.a.,ia berkata : “Rasulullah s.a.w. mengutuk orang yang memakan (mengambil) riba, wakilnya, penulisnya, dan dua orang yang menyaksikan.” Ia berkata: “mereka berstatus hukum sama.” (HR. Muslim, Ibn Majah).

Yang dimaksud dengan wakilnya ialah orang yang memberikan riba itu, karena sesungguhnya tidak akan terjadi riba itu kecuali dari dia, maka dia juga termasuk berdosa; sedangkan dosanya penulis dan 2 orang saksinya adalah karena bantuan mereka terhadap perbuatan yang diharamkan tersebut.

1.5 SEJARAH RIBA

Ayat-ayat Al-Quran, di atas membicarakan riba sesuai dengan periode larangan, sampai akhirnya datang larangan tegas pada akhir periode penetapan hokum riba. Riba pada agama-agama samawi telah dinyatakan haram. Tersebut dalam Perjanjian Lama Kitab keluaran ayat 25 pasal 22: “Bila kamu menghutangi seseorang di antara warga bangsamu uang muka maka janganlah kamu berlaku laksana seorang pemberi hutang, jangan kamu meminta keuntungan padanya untuk pemilik uang”. Namun orang Yahudi beranggapan bahwa riba itu hanyalah terlarang kalau dilakukan di kalangan sesama Yahudi. Tetapi tidak terlarang dilakukan terhadap non Yahudi. Hal ini tersebut dalam kitab Ulangan ayat 20 pasal 23.

Reputasi bangsa Yahudi dalam bisnis pembungaan uang memang sangat terkenal. Pada masa kini pun di AS, praktek pembungaan uang oleh kelompok etnis Yahudi, di luar lembaga perbankan, koperasi atau credit union, masih menjadi fenomena umum. Di negeri kita, kegiatan ini dikenal sebagai tukang kredit.

Tetapi Islam mengangap bahwa ketetapan-ketetapan yang mengharamkan riba yang hanya berlaku pada golongan tertentu, sebagaimana tercantum dalam Perjanjian Lama merupakan ketetapan yang telah dipalsukan. Sebab riba diharamkan bagi siapa saja dan terhadap siapa saja, karena hal itu merupakan suatu yang zalim dan kezaliman, sehingga diharamkan kepada semua tanpa pandang bulu. Islam tidak membedakan manusia karena bangsanya atau warna kulitnya atau keturunanya. Karena manusia adalah hamba Allah. Tetapi umat Yahudi menganggap ada perbedaan besar antara umat yahudi dengan umat yang lain, sebagaimana mereka katakana dalam al-Qur’an; “Kami adalah putra-putra Allah dan kekasih-Nya”.

Berbeda dengan umat Yahudi, umat Nasrani dalam hal riba, secara tegas mengharamkan riba bagi semua orang, tanpa membedakan kalangan Nasrani maupun non-Nasrani. Tokoh-tokoh gereja sepakat berpegang pada ketetapan-ketetapan agama yang ada pada mereka. “Jika kamu menghutangi kepada orang yang engkau harapkan imbalanya, maka dimana sebenarnya kehormatan kamu. Tetapi berbuatlah kebaikan dan berikanlah pinjaman dengan tidak mengharapkan kembalinya. Karena pahala kamu akan sangat banyak.”

Ketetapan semacam ini menuntunkan pengharaman riba dengan tegas dalam agama nasrani. Namun kaum periba berusaha untuk menghalalkan beberapa keuntungan yang tidak dibenarkan oleh pihak geraja karena pengaruh ekonomi yahudi. Akhirnya muncul anggapan dan pendapat, bahwa keuntungan yang diberikan sebagai imbalan administrative dan organisasi dibenarkan. Akhirnya banyak orang mengambil fatwa ini sehingga berani menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah.

BAB III
KESIMPULAN

Riba secara bahasa bermakna : Ziyadah / tambahan. dalam pengertian lain secara linguistik, riba juga berarti Tumbuh dam membesar. Adapun menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Ada beberapa pendapat dalam menjelasakan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambin tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam-meminjam secara batil atau bertentangan dengan prisip muamalah dalam Islam.
Dan riba merupakan kebiasaan orang jahiliah pada jaman jahiliah sehingga allah menjadikan hukum riba dari mulai tidak baik untuk bersosial hingga sampai mengharamkanya, ayat al-qur’an dengan demikian sehingga orang yahudi melakukan kesempatan untuk mempecah belah umat islam dengan riba karena larangan riba tersebut hingga saat ini. Mulai dari bank hingga yang lainya seperti pinjaman uang dan pergadain dengan demikian umat islam harus bisa lebih teliti tentang permasalahan riba saat ini.

Daptar Pustaka
Al-Qur’anul Karim
Al- Hadits
Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an : Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan
Umat. Mizan. Bandung.
An-Nisabury. Asbab an-Nuzul. (Beirut: Dar al-Fikr) hal. 58-59.Jalalaini, Tafsir Al Qur’an AL Karim, Jilid 1 hlm. 295.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Wanita Ahir Jaman

banyak orang yang sudah tidak mengenal dirinya sendiri siapa dia untuk apa dia di ciptakan dan apa pekerjaan yang seharusnya ia lakukan di aibatkan oleh intelektual yang beegitu rendah sehinga menjadikan dirinya di goda oleh beberapa orang padahal orang tersebut ingin meelakukan perbuatan yang tidak baik” bahwasanya kita mengetahui tata krama dan prilaku yang buruk dan yang baik akan tetapi manusia saat ini lebik banyak kepada keburukan seperti perempuan jaman sekarang dia tau itu aurat dia tau itu tidak baik dan kenapa ia melakukan tersebut dia tau dia di ciptakan di bumi ini untuk melakukan hal hal yang tidak baik karena ketika di tanya perempuan manakah yang kalian inginkan maka laki laki menjawab perempuan yang baik ahlaknya budi pekertinya dan lain lain yang berhubungan dengan hal hal yang baik dan ketika kita menyuruh perempuan maka banyak sekali alasan yang di lontarkan.

perempuan memang seperti perhiasan yang sangat baik ketika ia melihat laki laki yang tidak memiliki harta maka ia akan mendekatinya bertemu dengan laki yang miskin maka ia akan menjauhinya apa sebenarya keeinginan yang  di inginkan apakah ia ingin menjadi orang yang tidak dapat di jadikan orang sholehah dan lain lain.

oleh sebab haruslah kita ketahui ketika kita ingin menjadi insan yang baik maka lakukanlah hal hal yang baik halaupun banyak kata kata yang terlontar dari jiwa orang lain maka hendaklah kita menjauhi hal hal yang tidak menjadikan kita orang orang yang burun carilah hal hal yang buruk menjadi lebik baik dan carilah hal hal baik dengan istiqomah dan taat kepada allah SAW dan bagi orang orang yang tidak

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KOTA TAKENGON DAN KEINDAHAN ALAMNYA

Kota Takengon adalah salah satu kota yang berada di aceh tengah di mana banyak objek wisata indah dan menarik karena kota di atas ketinggian seribu dengan khas suhu dingin yang ada, kota ini juga di juluki sebagai negeri indah di atas awan karena banyak sekali keindahan yang di sajikan di takengon.

Adapun objek wisata yang di tawarkan mulai dari sejarah kerajaan suku Gayo yaitu suku yang berada di dataran tinggi propinsi aceh dengan wilayah tiga kabupaten yaitu Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues dengan bahasa khusus yaitu bahasa Gayo, salah satu kerajaan yang pernah ada adalah kerajaan Ligge yaitu kerajaan islam di bawah kekuasaan kerajaan samudra pasai pada jaman itu di aceh di kuasai oleh iskandar muda pada saat inidi jadikan nama bandara jalan dan bagunan penting lainya.

Di kota Takengon juga memiliki keindahan memukau lainya yaitu danau laut tawar atau di kenal dengan danau seperti laut dengan rasa air tawar, di danau ini banyak sekali objek wisata yang sangat menarik mulai dari pantai di sebuah danau dengan pasir khas danau serta adanya peninggalan sejarah seperti Putri Pukes, Loyang Koro, Danau laut tawar juga di kelilingi oleh bukit dan Gunung sehingga ketika kita datang ke kota tersebut seperti dalam mimpi karena keindahan yang di tawarkan.

Pingiran Danau Laut Tawar

     Takengon juga di kenal sebagai kota Kopi karena masyarakatnya rata rata adalah seorang petani kopi dan kopi gayo sudah menjuru ke seluruh dunia karena rasa dan aromanya yang khas oleh sebab itulah gayo sangat di kenal oleh dunia.

Kota Takengon adalah kota dengan Wisata alam sangat mengugah keinginan kita untuk dapat menghilangkan kejenuhan serta menambah ilmu pengetahuan angin yang begitu segar serta bau kopi menyengat di hati sehingga banyak wisatawan dari seluruh penjuru masyarakat yang ingin pergi dan melihan kota takengon.

Adapun akses ke kota tekengon saat ini cukup mudah karena telah selesai bandara tingkat tiga dengan penerbangan Wings Air penjalanan dari medan serta bus dari Kota banda aceh dan juga Kota medan dengan perjalanan dari medan yaitu sekitar 10 jam dan dari banda aceh 6 sampai 7 jam perjalanan dengan bus yang mewan serta perjalanan yang menantang karena melewati bukit serta jalan yang berliku.

Selain kota yang indah dan menawan kota Takengon juga di kenal dengan kerawang nya, kerawang di sini bukanlah nama kota di jawa barat melaikan nama sebuah baju adat di Gayo dengan corak yang indah khas Gayo yang di bordir denga

 

n teliti serta pembuatanya. yang lama sehingga menjadikan baju ini begitu indah ketika di pandang maupun di pakai.

 

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

RASA KESAL DALAM HATI DAPAT MENENANGKAN HATI

itulah yang sering kita rasakan setelah sekian lama kita berteman bagaimana tidak ketika kita ingin berjalan jalan atau bermain dengan teman kita setelah itu kita dapatka kekurangan dalam dirinya apa yang akan terjadi bisa bisa kita berkelahi dan setelah itu bermusuhan begitulah bersahabat dengan kawan kita yang tidak kita kenal bisa bisa kita kena efek yang dapat merugikan kita begitulah hidup di dunia ini penuh dengan rasa dendam oleh sebab itu lebih baik kita melakukan kesalahan kepada allah SWT dari pada teman kita sendiri karena allah maha pengampun dan teman kita hanya seorang mahluk yang bisa sakit hati.

Dan rasa kesal bisa menjadi rasa persahabatan yang lebih erat misalnya kita bertengkar dengan teman kita setelah itu kita merasakan kesedihan setelah itu dn bermaafan pasti setelah itu persahabatan kita semakin erat karena sama sama merasa bersalah dan memperbaiki bersama sama oleh sebab itu ketika kita bertengkar janganlah kita lama lama untuk menanam rasa benci kepada teman kita karena itu sama saja kita menyakiti tubuk kita terkecuali harga diri di rendahkan maka harus melawan karena harga diri sangat mahal harganya.
salah satu contoh baik dari rasa kesal adalah seorang suami istri di mana mereka berbeda pandangan setelah itu mereka pasti akan saling menyalahkan apabila terjadi pemikiran yang sama dan kunci utama agar tidak terjadi yang tidak di iginkan adalah harus ada yang mengalah seperti api yang besar harus di siram dengan air agar dapat cepat padam.

by sulyadi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Anak Pendaki

img_20161030_064152_hdr

anak pendaki di puncak gunung

Pendaki adalah salah satu hobi extrim karena membutuhkan fisik yang kuat serta tidak gampang menyerah karena selama perjalanan pendakian di suguhkan dengan tas yang besar yang bisa mencapai 30-50 KG anak pendaki biasanya diri kalangan orang orang yang menyukai alam yang sejuk serta memiliki rasa keberanian dalam dirinya sehingga ia tahan terhadap apa saja yang ada di depanya.

mungkin tidak banyak menyukai pendakian apalagi orang orang yang sibuk dengan kegiatan yang tidak memiliki waktu untuk melakukan hobi yang satu ini, mendaki memiliki resiko yang besar serta tantangan mengerikan hanya sebagia orang saja yang kuat sebagai mana kita lihat, apabila pendakian itu mudah dan tidak banyak mengeluarkan biaya maka pastinya akan banyak yang pergi ke atas gunung karena setelah orang mencapai puncak gunung ia tuju maka keindahan alam akan terlihat begitu indah serta pemandangan yang sangat penomenal.

pendakian juga bisa berakibat fatal apabila kita belum siap atau terlalu di paksakan ketika alam tidak memadai oleh sebab itu ketika kita ingin mendaki maka janganlah di paksakan karena itu merupakan sifat orang yang tidak terpuji, dan kegiatan ini banyak di lakukan oleg orang-orang yang baru pertama kali mendaki atau pendaki yang belum memiliki pengalaman yang luas sehingga tidak bisa mengkondisikan situasi yang ada di alam.

setelah pendakian orang akan selalu mengingat kenangan itu apalagi gunung di atas ketinggian 3000 MDPL maka sudah pasti memiliki kesan yang sangat banyak karena waktu yang di tempuh pasti melewati dua hari.

apabila kita ingin melihat kelakuan seseorang dengan cepat maka ajaklah mendaki akan tetapi lihat teman kalian itu kuat atau tidak apabila bisa menjamin maka ajaklah  dan juga ingin melihat sifat, watak, serta rasa sabat maka bisa di lakukan lewat pendakian.

munkin itu artiket tentang anak pendaki selamat mendaki dan jangan kalian takut dengan alam dan tetaplah di jaga agar tetap indah.

 

by sulyadi

wasalam….

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar